July 17, 2012

Mimpi Nonton Film Berbahasa Daerah

Sudah lama tidak mereview film. Bukan berarti gak pernah nonton film… hanya saja lama gak menemukan film yang sesuai selera dan bermanfaat bagi yang menontonnya. Hasil review ini tentu saja sangat subjektif.. jadi, jika kawan-kawan tidak sependapat dengan pendapat saya, hal itu sah-sah saja, dijamin anda tidak melanggar hukum, dan tentu saja saya sangat menunggu komentarnya.

Beberapa hari yang lalu baru mendapat kesempatan menonton film Semesta Mendukung hasil download di blog sebelah.. (hihihi.. ketahuan deh kalo suka nonton yang gratisan..). Awalnya sih gak tau kalo film ini bercerita tentang semangat meraih mimpi ala laskar pelangi dengan setting pulau Madura. Tetapi, ketika melihat traillernya di youtube, baru ngeh kalo film ini menceritakan tentang semangat juang seorang pelajar SMP dari Sumenep Madura.. iya, betul Madura… tempat saya lahir dan dibesarkan. Apalagi aktris utamanya Revalina S. Temat.. sudah lama saya ngefans banget sama artis ini.

Sudah banyak Blog yang mereview film ini, salah satunya disini. Rata-rata mereka mengulas kekecewaan terhadap penyutradaraan yang serba datar dan tanggung, cenderung membosankan, atau kurang sesuai harapan dan ekspektasi pereviewnya. Pendapat mereka sah-sah saja, namanya juga review subjektif.

Dan saya juga sepakat dengan mereka yang menilai bahwa penyutradaraan dan akting pemainnya terlalu datar (bahkan kaku). Dialog-dialog dalam bahasa Indonesia ala Madura terkesan dipaksakan. Saya sangat merasakan kekakuan dialek nya. Ketika mendengar Indro Warkop, Revalina, Lukman Sardi dan lainnya akan sangat berbeda ketika kita mendengar Sujiwo Tedjo (yang turunan madura) atau Mahfud MD saat mereka berbicara dalam bahasa Indonesia.

Dulu, saya sering membayangkan nonton Film Indonesia berbahasa daerah dengan subtitle bahasa Indonesia, mengingat beragamnya bahasa daerah di negara ini. Hingga saat ini, belum ada film Indonesia yang full berbahasa daerah, kalaupun ada hanya sebatas tempelan/sekedar ada untuk latar belakang cerita. Saya baru menemukan film seperti itu hanya di JTV. Di stasiun tivi ini, bahkan film baratpun di dubbing bahasa Jawa Suroboyoan. Lucu juga saat menontonnya…

Jika alasan bisnis, saya kira analisa investasinya cukup feseable dan realistis jika perusahaan perfilman memproduksi film berbahasa daerah. Sebagai contoh, saya ambil etnis Madura. Dengan asumsi biaya produksi 10 M, dan asumsi jumlah penduduk Madura dan keturunan Madura di Indonesia adalah 10% dari jumlah penduduk di Indonesia, kira-kira 20 juta jiwa. Jika 30% dari penduduk Madura mau menonton film tersebut, artinya ada 6 juta penduduk potensial yang mau menonton. Bila harga tiket rata-rata Rp 10.000,- maka potensial penghasilan kotor perusahaan film bisa mencapai Rp. 60 Milyar, setara dengan 600% keuntungan dari investasi awal. Penghasilan ini belum termasuk hitungan dari etnis lain yang mungkin juga menikmati film ini. Belum lagi dari penjualan DVD/VCD nya.

Jumlah Penduduk Indonesia : 200 Juta Jiwa
Jumlah Penduduk Etnis Madura : 10% x 200 Jiwa = 20 Juta Jiwa
Jumlah Penonton Potensial : 30 % x 20 Juta Jiwa = 6 Juta Jiwa

Penghasilan : 6 Juta Jiwa @ Rp. 10.000,- = Rp. 60.000.000.000,-
Biaya Produksi : Rp. 10.000.000.000,-
Laba Kotor : Rp. 50.000.000.000,-


Tentu ide ini merupakan peluang yang sangat besar bagi industri perfilman. Selain misi mengangkat budaya agar tidak diklaim bangsa lain, misi menghasilkan keuntungan bisa di raih. Semoga ide ini bisa dibaca oleh sineas film.






Bagikan/Simpan/Bookmarks


Artikel Terkait