February 20, 2011

Kaprah yang Salah

Tags

Dalam suatu kesempatan, saya menyimak pidato sambutan Wakil Gubernur Jawa Timur – Saifullah Yusuf, yang selalu menarik dalam penyampaiannya. Saat itu, beliau menyinggung masalah tentang Pariwisata di Jawa Timur. Menurut beliau, Jawa Timur ini kaya sekali dengan potensi wisata yang bisa terus dikembangkan, dari wisata alam, wisata kota, bahkan wisata kuburan pun cukup menjanjikan.

Merupakan sebuah kebiasaan di masyarakat Indonesia saat bulan Ramadhan ataupun Idul Fithri berbondong-bondong ziarah kubur (nyekar) yang seolah-olah perbuatan tersebut pada waktu itu lebih utama, padahal ziarah kubur bisa dilakukan kapan saja, karena inti dari ziarah kubur adalah untuk mengingat mati agar setiap manusia mempersiapkan bekal dengan amal shalih, jadi bukan kapan dan dimana kita akan mati tapi apa yang sudah kita persiapkan untuk menghadapi kematian jika telah datang maka tidak akan ada yang mampu memajukan atau memundurkannya walau sesaat pun.

Waduh, kok jadi serius gini… saya tidak bermaksud membahas masalah kuburan atau budaya ziarah kubur.. biarlah bahasan ini menjadi bahasan para ahli di bidangnya…

Saya hanya ingin mengingatkan bahwa kita terlalu sering melakukan kebiasaan-kebiasaan (kaprah) yang sebenarnya salah, dan terus dibiarkan sehingga menjadi sebuah kebenaran (yang salah). Coba saja simak beberapa hasil penelusuran ini :

Minal Aidzin Wal Faidzin

Saya tertarik dengan tulisan Tyan Sae yang berjudul “Tradisi Salah Kaprah“, kalimat Minal ‘Aidin wal Faizin selama ini memang banyak disangka berarti ‘mohon maaf lahir dan batin’. Anggapan tersebut semakin tegas setelah saya membaca berita di Detik.com yang berjudul “Qory Sandioriva Sudah ‘Minal Aidin Wal Faizin’ ke Ibunya” dan mendapati pernyataan pengacara Qory, Malik Bawazir: “Nggak, dia sudah minal aidin (wal faizin) sama ibunya. Sudah saya tanya, saat Lebaran dia juga sampaikan permohonan maafnya”.

Berdasarkan catatan Wikipedia, Minal ‘Aidin wal Faizin tidak terdapat dalam tradisi Arab, ungkapan tersebut secara harfiah diterjemahkan menjadi “dari (yang) kembali dan berhasil”–kacau, kan? Yang sebenarnya dimaksudkan dari ungkapan tersebut adalah “Semoga kita semua tergolong mereka yang kembali (ke fitrah) dan berhasil (dalam latihan menahan diri)”.

Ungkapan yang digunakan saat Idul Fitri seharusnya “taqobbalallahu minna waminkum” yang artinya “semoga Allah menerima amalku dan amal kalian”. Masalah setelahnya disertai kata-kata mohon maaf, itu boleh saja sebab umat Islam dianjurkan untuk menghapus salah, di antaranya dengan minta maaf.
Jadi, ucapan yang disarankan di Indonesia (dari saya sebagai blogger) adalah: “Taqobbalallahu minna waminkum dan mohon maaf lahir dan batin”.

Empek-Empek

Apa yang Anda bayangkan saat membaca judul tulisan ini? Apakah Anda membayangkan ‘makanan khas daerah Palembang yang terbuat dari adonan tepung terigu dan ikan yang dimakan dengan kuah bercuka’? Jika makanan tersebut yang dibayangkan, cobalah untuk membuka KBBI, baik edisi cetak maupun edisi daring.

Dalam KBBI, empek berarti ‘bapak’ sementara empek-empek berarti ‘kakek-kakek’ atau ‘lelaki yang sudah tua sekali’. Saya tersenyum menyaksikan kata empek-empek terpampang di sebuah warung yang menjual makanan khas Palembang, pastilah si penjual tidak mengerti makna empek-empek.



BH dan Wanita

Mengapa wanita Indonesia selalu menggunakan BH? Apakah karena banyak orang Indonesia keturunan Belanda atau suka pada (meniru) wanita Belanda?

BH berasal dari bahasa Belanda, bustehouder. Ini juga sebagai penegasan bahwa BH bukan berasal dari bahasa Inggris, Bustler Holder (Pemilik Payudara). Dalam bahasa Indonesia BH dikenal dengan istilah kutang. Yang lebih seru, Eko Endarmoko dalam Tesaurus Bahasa Indonesia menyamakan kutang dengan beha dan pengampu susu.

Setelah membaca tulisan ini, jika Anda wanita, apakah akan tetap menggunakan BH atau kutang? Saya yakin tetap menggunakan BH, itu wajar. Masyarakat Indonesia memiliki budaya “malu-malu”. Dengan budaya malu-malu tersebut, BH lebih dipilih karena lebih tersamar daripada kutang dan pengampu susu.
Ah, jangan-jangan kutang baru dikenal sejak kedatangan wanita Belanda ke Indonesia, sehingga namanya BH, bustehouder. Benarkah?

CD dan Celana Dalam


Sudah memakai celana dalam? Ya, Anda boleh melanjutkan membaca.

Masyarakat Indonesia jarang menyebut istilah celana dalam. Biasanya mereka menyebutnya dengan singkatan CD (si di). Di Indonesia memang masih ada budaya “malu-malu”. Saya sebut budaya “malu-malu” karena di budaya itu sendiri terselip beberapa aksi porno-erotis yang dilegalkan dan diajarkan kepada anak-anak, contohnya lagu “Cucak Rowo” dan aksi mandi di sungai. Dengan adanya budaya “malu-malu” itu, kita menyebut celana dalam dengan singkatan CD.

C.D. untuk celana dalam sebenarnya bahasa Indonesia, bukan bahasa Inggris. Oleh karena itu, ucapannya menurut “gaya” bahasa Indonesia pula, ce de. Berbeda dengan C.D. untuk celana dalam, C.D. untuk compact disc memang diucapkan si di (si:’di:). Hal yang mengganjal juga terjadi untuk singkatan handphone atau hand phone, singkatannya hp (ha pe), sementara hp untuk merek PC (juga notebook dan netbook) diucapkan eɪʧ’pi: dan Ph.D. diucapkan pi: eɪʧ’di:.

Itulah Indonesia, sambung-menyambung menjadi satu.


BERSAMBUNG.........




Bagikan/Simpan/Bookmarks


Artikel Terkait