October 3, 2009

Membeli Nostalgia

Tags




Hari Raya Idul Fitri 1430 H telah usai. Aku ucapkan Selamat Idul Fitri 1430 H. Hiruk pikuk mudik telah berakhir, dan kembali pada aktivitas semula. Yang bekerja kembali kerja, yang kuliah juga kembali kuliah. Ada sedikit cerita saat pulang mudik kemarin.

Tahun ini, aku mudik ke kampung halaman istriku, Blitar. Tahukah kawan, apa yang terkenal dari kota Blitar selain Bung Karno? Ya, Pecel Blitar. Di Jawa Timur banyak banget versi Pecel. Ada Pecel Tumpang, Pecel Madiun, Pecel Nganjuk, dan banyak lagi yang lainnya sesuai nama kota.

Sehari setelah lebaran, pagi-pagi jam 06.00 aku diajak ke sebuah warung pecel. Nama warung ini adalah Warung Pecel Saminatun. Letaknya di Jalan Bali, Blitar. Warungnya kecil. Hanya berukuran 4x3 M saja. Dengan bangku seadanya, orang yang antri dan makan terpaksa berada di trotoar jalan. Tapi mereka semua tampak sangat menikmati masakan ibu Saminatun ini.

Ketika aku sampai di warung itu, antrian panjang telah berjajar hanya untuk merasakan pecel buatan putri Ibu Saminatun (penjualnya sekarang sudah generasi ke dua).Dari kendaraan yang di parkir di depan halaman itu, aku tahu para pembeli itu berasal dari luar kota Blitar. Dan benar saja dugaanku, saat ikut mengantri, aku dengar pembicaraan para pembeli pecel ini. Ada yang berasal dari Jakarta, Jambi, Balikpapan, Kupang, Padang, dan daerah lain di Indonesia. Bahkan ada yang berasal dari Hongkong, Malaysia, dan Singapura.

Tepat saat giliranku, nasi dan pecelnya hanya tersisa 3 bungkus. Padahal rencananya mau beli 10 bungkus. Istriku nampak kecewa…padahal, jujur saja, menurutku rasa pecel itu sama saja seperti rasa pecel lain di Blitar. Bahkan sama dengan buatan ibu mertuaku yang juga asli Blitar.

Aku jadi berpikir, apa sih menjadi daya tarik pecel Saminatun?

Seperti yang aku sebutkan di atas, warung pecel ini sudah 2 generasi berdiri. Penjual yang sekarang adalah anak ibu Saminatun yang telah jualan nasi pecel 20 tahun lebih. Padahal, ibu Saminatun sendiri sampai akhir hayatnya tetap setia jualan pecel. Jadi menurut perkiraanku, warung pecel ini telah berdiri 50 tahun lebih. Atau mungkin dulu bung Karno juga sering makan di warung ini.

Sejak awal berdirinya, menurut istriku, warung ini tidak banyak perubahan. Yang berubah hanya tembok bangunan. Dulu pakai dinding gedhek (anyaman bambu), sekarang sudah tembok. Lay out warung juga tidak banyak berubah.

Warung ini bukanya jam 05.00 WIB pagi. Jadi, ketika di rumah tidak sempat masak, maka orang tua biasanya menyiapkan sarapan buat buah hatinya dengan membeli pecel ibu Saminatun ini. Karena selain rasanya enak, harganya Super Murah. Sekarang aja harganya Cuma Rp. 2.000,- untuk satu porsi nasi pecel, tempe, dan rempeyek.

Nah, tradisi orang blitar yang suka sarapan nasi pecel, membelikan anak-anaknya sarapan nasi pecel di warung ibu Saminatun telah membekas di hati anak-anak mereka.

Dan seperti yang kawan ketahui, kebanyakan orang Blitar merantau. Tak hanya di dalam negeri, tapi juga ke luar negeri. Kenangan manis di saat antri membeli nasi pecel di warung ini, telah tertanam dalam benak mereka. Sehingga, ketika mereka pulang kampung, kenangan manis yang terus membekas inilah yang mereka cari di warung nasi pecel ibu Saminatun.

Ibu Saminatun telah berhasil menanamkan sebuah Brand Image atas nasi pecelnya, sehingga bisa menimbulkan auto sugesti pada para pelanggan setianya. Dan, pelanggan tidak hanya mendapatkan nasi pecel, juga kenangan manis masa kecil. Bagi pelanggan, membeli pecel di warung ibu Saminatun, sama dengan membeli Nostalgia.

Ingin mencicipi nasi pecel ibu Saminatun ? Datang aja ke Blitar, dan buktikan rasanya. Muanteb... Mak nyus..tenan!



Bagikan/Simpan/Bookmarks




Artikel Terkait