May 11, 2009

Perempuan Berkalung Sorban

Tags

Sejak pertama kali thrillernya ditayangkan di televisi pada ujung tahun 2008, aku sudah kesengsem banget untuk menonton film Indonesia ini. Sayang, kesempatan untuk mengunjungi bioskop dan menyempatkan diri menontonnya belum bisa berkompromi dengan kesibukanku.


Kini di saat senggang, iseng aku jalan ke rental DVD/VCD dan menemukan film ini sedang tidak ada penyewanya. Seketika itu aku langsung teringat bahwa aku belum menontonnya.

Dan, benar dugaanku. Film ini sangat jauh berbeda dengan film Indonesia kebanyakan, yang dijejali film horor dan komedi. Bahkan, Ayat-Ayat Cinta yang bergenre sejenispun tidak akan bisa dibandingkan dengan film Perempuan Berkalung Sorban ini.

Terakhir aku nonton film Indonesia bermutu seperti ini adalah Daun Di Atas Bantal sekitar tahun 1999 saat masih kuliah dulu. Dan perasaan lupa bahwa sineas ber’kelas’ seperti ini masih ada di bumi indonesia kembali teringatkan.

Apa yang menarik dari Perempuan Berkalung Sorban ini? Berikut kisahnya ;



Film ini berupaya mendekonstruksi kesetaraan dan kebebasan perempuan melalui tokoh Annisa yang cerdas, keras kepala, gigih, dan sabar dalam memperjuangkan idealismenya tentang kesetaraan perempuan. Sikapnya yang penuh rasa berontak ketika kaum wanita di doktrin melalui dunia pendidikan Pondok Pesantren bahwa wanita harus taat dan tunduk kepada laki-laki, telah membawanya pada perjalanan hidup yang pahit.

Annisa harus merelakan cita-citanya untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi kandas akibat perjodohan dengan Syamsudin. Alih-alih hidupnya bahagia, justru pernikahan yang awalnya dianggap suci itu telah membawanya pada penindasan kaum adam yang mengatas-namakan agama. Bahkan, ketika kehidupan poligami yang kemudian dialami Annisa semakin memperkuat posisinya sebagai kaum yang tertindas dan lemah di bawah dominasi Syamsudin.

Ketika penindasan itu memuncak dan jiwa pemberontaknya tak dapat dibendung untuk memperjuangkan idealismenya, segala carapun ia lakukan hanya untuk melepaskan hubungan pernikahan yang telah membelenggunya. Dan diapun berhasil, walau keberhasilan itu akhirnya menyebabkan ayah Annisa meninggal.

Kisahpun berlanjut pada perjuangan Annisa untuk menjadi wanita mandiri tanpa harus berada di bawah ketiak laki-laki. Dia kuliah dan aktif sebagai penulis di berbagai media cetak untuk membiayai kuliahnya. Dia juga menjadi konselor dalam sebuah Lembaga Bantuan Hukum yang khusus menangani perempuan teraniaya. Sampai suatu ketika Annisa bertemu kembali dengan cinta pertamanya, Pak Lek Mudhori, dan merekapun akhirnya menikah.

Trauma pernikahan Annisa sebelumnya membuat Mudhori harus sabar menghadapi Annisa. Dengan tekun Mudhori membimbing Annisa pada pernikahan islami yang sebenarnya. Bagaimana kehidupan pernikahan yang sakinah, mawaddah, wa rahmah tergambar dalam kehidupan pernikahan Annisa dan Mudhori. Dalam kehidupan seperti inilah Tuhan telah meletakkan surga-Nya di bawah telapak kaki seorang Wanita.

Perjuangan Annisa berlanjut pada Pondok Pesantren peninggalan ayahnya. Pondok pesantren yang kolot ini sangat tertutup pada kehidupan luar, terutama bagi santriwati. Para santri dilarang mempelajari kitab (buku) selain kitab yang berbahasa arab.

Annisa terus berjuang untuk kebebasan para santri agar bisa mempelajari buku-buku lain selain kitab kuning. Cita-citanya untuk mendirikan sebuah perpustakaan umum di pondok pesantren terus mendapat perlawanan sengit dari para sesepuh dan kakak-kakaknya yang semuanya laki-laki.

Di sisi lain, Annisa juga harus berjuang menyelamatkan Pondok Pesantrennya dari jeratan hutang Syamsudin, mantan suami Annisa.

Dekonstruksi “kebebasan” dan “kesetaraan gender” melalui tokoh Annisa digambarkan oleh Hanung Bramantio dengan sangat cerdas. Gambar dan dialog yang disajikan sangat lugas dan tanpa kesan menggurui, sehingga penonton bisa mengerti pesan yang ingin disampaikan.

Surga telah diletakkan di bawah telapak kaki seorang wanita, dan wanita punya kebebasan untuk memilih cara yang terbaik dan di ridhoi Allah untuk meraih surganya.


Dengan memasukkan email Anda, berarti setuju untuk selalu mengupdate artikel terbaru dari uziek. Masukkan Alamat Email Anda :

Dikirim oleh: Mbah Google









Artikel Terkait