November 15, 2009

Kasta Bahasa

Tags

Kasta
Pada ajaran Hindu tidak dikenal yang namanya kasta namun umat Hindu mengenal pembagian kelompok masyarakat berdasarkan keahliannya yang disebut dengan warna dimana dikenal ada empat warna atau empat kelompok profesi umat Hindu yaitu :


Brahmana, kelompok masyarakat yang bertugas beprofesi sebagai agamawan yang mendalami ajaran ajaran agama dan memimpin upacara upacara keagamaan, Pada jaman dahulu dipercaya hanya orang orang dari golongan brahmana yang boleh membaca yan namanya kitab suci agama hidu serta orang yang memahami ajaran agama disebut dengan brahmana.
Ksatria, kelompok masyarakat yang berprofesi sebagai prajurit atau pejabat negara atau kerajaan jaman dahulu baik itu dari prajurit sampai sang rajanya termasuk dalam kelompok ini.
Wesya, kelompok masyarakat yang berprofesi sebagai pedagang atau orang yang bertanggung jawab dalam bisnis.
Sudra, kelompok paling akhir ini adalah orang yang berprofesi sebagi petani atau pelayan

Dalam perkembangan selanjutnya masyarakat di Bali, pada masa penjajahan Belanda ditetapkanlah sistem kemasyarakatan dimana masyarakat di Bali di bagi bedasarkan kelompok kelompok tersebut di atas tentunya hal ini merupakan politik Belanda untuk memecah belah penduduk Bali pada masa itu.

Kasta dalam Bahasa
Kini, Belanda telah pergi meninggalkan Indonesia 64 tahun yang lalu. Meski demikian, sistem pengelompokan strata sosial masyarakat ini tetap tumbuh subur hingga kini. Parahnya lagi, tak hanya dalam masyarakat, Bahasa Indonesia pun mengalami peng’Kasta’an. Seperti kata  “Dia” dan  “Beliau”; “Kamu” dan “Anda”; “Mati”, “Tewas”, dan “Wafat”. Kasta Bahasa ini muncul dan terus berakar di masyarakat Indonesia, khususnya Jawa karena alasan kesopanan, etika, dan penghormatan.

Ada contoh lain lagi yang menurut saya agak membingungkan yaitu ; “Bekas”, dan “Seken”. Seken sendiri merupakan bahasa serapan dari bahasa Inggris Second Hand yang artinya Bekas. Kedua kata ini biasanya merujuk pada kondisi benda. Pola penulisan dan pengucapannya di dahului oleh kata benda (koran bekas, motor seken, dll). Ada satu lagi yang berarti bekas, yaitu “Mantan”. Pola penulisannya biasanya mendahului kata benda (mantan pejabat, mantan kekasih).

Menurut saya, “Seken” menempati kasta lebih tinggi dari pada “Bekas”. Coba anda pergi ke mall, tak kan anda temui konter hp yang menjual hp bekas, namun banyak sekali yang menjual hp seken. Padahal, hp bekas dan hp seken artinya sama, sama-sama tidak baru, dan pernah dipakai. Demikian juga kalo anda ke pasar loak, anda tidak akan menemui koran seken, besi seken, akan tetapi banyak sekali yang menjual koran bekas, besi bekas, pakaian bekas, dan lain-lain.

Bagaimana dengan ”mantan”? Seorang bekas pejabat akan terasa lebih sopan bila disebut mantan pejabat, dan gak cocok bila disebut pejabat mantan, apalagi pejabat bekas. Padahal artinya sama, seseorang yang pernah (bekas) menjadi pejabat.  Demikian juga dengan kekasih atau istri/suami, akan terasa lebih sopan bila kita menyebutnya dengan mantan istri, mantan kekasih, dan akan terasa kasar dan tidak sopan bila kita menyebutnya bekas istri, bekas kekasih... apalagi istri bekas, atau kekasih bekas..! ya nggak? J

Artikel Terkait