Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

June 25, 2018

NGAKAN NYAMAN VS NYAMAN NGAKAN


"Cong, ngakan nyaman so nyaman ngakan riyah tak padeh.. mangkanah jek kor sokkor ngakan. Tegguh gelluh, kakanan riyah nyaman e kakan apah ma tak nyamanan ngakan?" Begitu nasehat sesepuh saya ketika saya sowan dalam rangka Idul Fitri tahun ini.

Makan (Ngakan, bahasa Madura) adalah aktivitas setiap mahluk hidup untuk bertahan hidup. Bahkan dari cara makan dan jenis makanannya, mahluk hidup ini dikelompokkan. Dan Manusia adalah mahluk Pemakan Segala.

Banyak cara dilakukan manusia hanya untuk menghasilkan makanan lezat untuk disantap. Tak heran, halaman web yang berisi aneka jenis resep makanan mendapatkan banyak kunjungan dan di share hingga jutaan kali. Semua hanya demi membagi pengetahuan tentang bagaimana membuat makanan yang enak dan lezat.

Tak terkecuali masyarakat tempat saya tumbuh dan berkembang, Madura. Bagi orang Madura ada perbedaan besar antara 'Ngakan Nyaman' dengan 'Nyaman Ngakan'. Perbedaan ini akan mempengaruhi cara pandang bahkan cara menjalani hidup yang berbeda.

'Ngakan Nyaman' kalo diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti Memakan Makanan Enak dan Lezat. Orang yang memiliki pandangan ini akan selalu berusaha untuk mendapatkan makanan lezat. Segala upaya dilakukan, entah bagaimana caranya, yang penting bisa mendapatkan makanan lezat.

Berbeda dengan 'Nyaman Ngakan' - kalo diterjemahkan artinya nafsu untuk makan sedang enak (nyaman). Orang yang menganut pandangan ini berpendapat bahwa semua makanan itu enak dan lezat, yang penting nafsu makannya sedang dalam kondisi prima. Tak peduli makanan apapun yang sedang dihadapinya, nasi jagung, nasi singkong, dengan atau tanpa lauk sekalipun, jika sedang nafsu makan pasti akan terasa enak.

Dari sedikit paparan diatas dapat disimpulkan bahwa 'Ngakan Nyaman' akan membuat kita berperilaku untuk terus berburu makanan lezat. Sedangkan 'Nyaman Ngakan' meyiratkan tentang kepasrahan untuk menerima keadaan.

Mana yang lebih baik?

April 23, 2018

ENAK NO BRO.... TERRRR !!!!

Kalimat ini lagi ngetren di Nitnut Radio. Pencetusnya siapa lagi kalo bukan DJ Senior kita; Ken Sadewo Yooaryaan.. 😄😄😄.

'Cletukhan' yang sengaja dilontarkan oleh sang DJ saat lagu (bollywood) berkumandang ini spontan dan selanjutnya sengaja dilakukan. Maksud dan tujuannya adalah untuk memberi warna yang berbeda pada model siaran ala Nitnut.

Disamping sebagai ciri khas, Nitnut Radio memang sengaja mengusung kearifan lokal (dari masing-masing DJ) dalam hal penyiaran.

Dari pengalaman traveling ke berbagai wilayah Nusantara, hampir semua siaran radio yang saya dengarkan menggunakan bahasa Indonesia dengan dialek Jakarta. Dan ini yang selalu saya keluhkan.. lah wong Nusantara ini kaya sak kaya-kayanya dalam hal bahasa dan dialek, lah kok siaran radionya semuanya berbahasa Indonesia dengan dialek Jakarta? Lalu dimana letak kekayaan dan keragaman bahasa daerah kita?

Saya haqqul yakin, cara berbahasa Indonesia orang Jawa Timur pasti berbeda dengan cara orang Jawa Tengah, apalagi dengan orang Kalimantan atau Papua. Lah wong sesama Jawa Timurnya saja dialek bahasa Indonesianya berbeda, kok.

Gak percaya? Dengar saja kalo orang Madura (yang masih berada di Provinsi Jawa Timur) berbahasa Indonesia, pasti berbeda dengan cara orang Surabaya berdialek bahasa Indonesia. Padahal wilayahnya hanya terpisah selat sejauh 3000 Meter.

Di Nitnut Radio, semua DJ dibebaskan berbahasa apa saja dengan dialek apa saja. Mbak Aida yang dari Surabaya bebas berbahasa Suroboyoan.. dengan clathuan khasnya.. Mas Ken yang Orang Malang, monggo berbahasa Malangan dengan clethukan khasnya, Yusuf Akbar yang dari Jombang, dipersilahkan mumbul ala Jombangannya.. Dan saya? Bo abbo.. tak usah dibahas ya.. nanti gak pes-kempes, tak iya?

Tapi jangan salah, konon menurut informasi intelegen yang patut diragukan kebenarannya, lembaga pemberantas korupsi di negeri ini dibuat dan dibentuk atas inisiatif orang Madura, makanya lembaga ini diberi nama Ka PeKa.

kembali ke topik Nitnut Radio, semua DJ nya bebas berekspresi dan berbahasa apa saja, yang penting masih bisa dimengerti oleh pendengar Nitnut dari golongan mahluk yang disebut Manusia.

Lagu-lagunya boleh saja 100% Bollywood, ini hanya masalah selera dan segmentasi Nitnut. Namun bahasa pengantarnya tetap membawa misi kearifan lokal yang akan terus menjelajah ruang dengar global.

Mau dengerin Nitnut Radio?

Download aja di Playstore.

May 25, 2014

Medan Perang Abad Millenium : Social Media

Media Sosial sudah menjadi gaya hidup sebagian besar orang, khususnya Facebook. Interaksi dunia maya telah menghapus ruang jarak dan waktu. Bahkan, media sosial telah dicap 'mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat'. Entah mengapa disebut demikian. Saya kira para pengguna media sosial lebih tau. Dan ini adalah Fakta, bukan rekayasa. Jika anda tidak percaya, tatap mata saya..

Fenomena yang terjadi belakangan ini, media sosial seperti Facebook, Kaskus, Kompasiana, Blog, dan sejenisnya malah dijadikan medan perang. Bukan dengan senjata, tapi dengan tajamnya kata-kata. Setajam Silet (#baca dengan gaya infotainment).

Contoh Pilpres (atau Pileg/Pilkada) mungkin terlalu luas untuk menggambarkan perang status di media sosial, dan tidak sedikit juga yang memperdulikannya. Dalam kehidupan sehari-hari, fenomena media sosial dijadikan medan tempur sangat mudah kita temui. Tujuannya sama, untuk memenangkan ego si pembuat status.

Dalam ruang lingkup yang lebih kecil,
seorang remaja putri mengupdate status :
"K4mU m3m4n9 t4k p3rn4h 6i54 n93rtiin 4ku !!!"


Beberapa saat kemudian, seorang remaja putra mengupdate status :
"Semua maumu telah kuturuti, kok masih dibilang gak pernah mengerti kamu???"

Rupanya sepasang muda-mudi ini sedang dilanda demam amarah rupanya. Hubungan mereka Putus. Alkisah, si pemuda ditemukan tewas mengenaskan. Menurut saksi mata, pemuda itu tewas karena disambar petir saat main bola di lapangan. #Tragis.

Bahkan, ini juga terjadi pada sebuah hubungan persahabatan yang awalnya terjalin akrab, tekun, serta lama.

Entah karena apa, Si A  mengupdate status :
"Sahabat itu tak pernah menyakiti, menghindar mungkin jalan yang terbaik !!!"


Beberapa saat kemudian, si B mengupdate status :
"Kebenaran itu harus diungkapkan, meski seringkali menyakitkan. Kulakukan ini karena aku peduli !!!"

Hari-hari selanjutnya, mereka berdua tak pernah bertegur sapa saat bertemu. Bahkan menghindar dan membuang muka ketika berpapasan. Saking kerasnya membuang muka, tak sadar disampingnya ada tembok beton. Salah satu dari keduanya berakhir tragis dengan terkapar tak berdaya di ICU khusus penyakit ISPA. #Mengenaskan.

Cerita di atas hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan tokoh, kejadian, atau tempat, semuanya murni disengaja.

March 8, 2012

CERDAS

Kecerdasan bisa termasuk kreativitas, kepribadian, watak, pengetahuan, atau kebijaksanaan. Namun, beberapa psikolog tak memasukkan hal-hal tadi dalam kerangka definisi kecerdasan. Kecerdasan biasanya merujuk pada kemampuan atau kapasitas mental dalam berpikir, namun belum terdapat definisi yang memuaskan mengenai kecerdasan (wikipedia.com).

Seorang tokoh favorit saya mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan seseorang membuat distingsi (perbedaan) yang lebih baik. Semakin baik seseorang dapat membuat distingsi, kecerdasannya semakin baik. Kemampuan setiap orang untuk melihat distingsi tidak sama. Oleh sebab itu, setiap orangtua harus dapat melihat kemampuan anaknya dalam membuat distingsi, kemudian mendukung dan mengarahkannya untuk dikembangkan dalam kehidupannya.

Kisah berikut mungkin akan sedikit memberi gambaran tentang arti kata Cerdas. Berikut kisahnya :

Dalam sebuah kelas, Guru sedang memberikan soal cerita matematika.

GURU : "Anda pergi ke pasar swalayan untuk membeli tepung. Di sana ada kemasan tepung 1 kg dengan harga Rp. 5.000,- Juga ada kemasan tepung 5 kg dengan harga Rp.20.000,- Kemasan mana yang sebaiknya Anda beli agar Anda bisa hemat dan untung?"

ROBERT : "Kita sebaiknya membeli kemasan 1 kg dengan harga Rp. 5.000,-"

GURU : "Wah, sayang sekali. Jawabanmu salah Robert. Seharusnya kita membeli tepung dengan kemasan 5 kg seharga Rp. 20.000,-"

ROBERT : "Tapi Bu Guru … bukankah di rumah Ibu hanya membutuhkan sedikit tepung? Saya kira 1 kg saja sudah cukup. Malah barusan Ibu saya membuang 1 sak tepung yang sudah rusak karena lama tidak terpakai. Bukankah ini malah lebih boros dan “membuang-buang uang” saja?"

GURU : "Tidak Robert. Jawaban yang benar adalah kita harus membeli tepung dengan kemasan 5 kg seharga Rp. 20.000,- karena itulah jawaban yang seharusnya."

ROBERT : "Tapi Bu … untuk apa membeli tepung sebanyak itu bila toh nantinya tidak terpakai?"

GURU : "Robert … memang itulah jawaban yang benar. Kamu jangan membantah."


ROBERT : "Tapi Bu … menurut saya jawaban yang benar adalah …"

GURU : "SUDAHLAH Robert! Ayo sekarang ikut Ibu Guru menghadap Kepala Sekolah. Kelakuanmu sangat buruk hari ini! Tidak seharusnya kamu membangkang di kelas."
Menurut Anda, siapakah yang cerdas??

 (Si Robert dalam kisah di atas adalah ROBERT T. KIYOSAKI, seperti yang dialaminya sendiri. Angka-angka telah disesuaikan.)








Bagikan/Simpan/Bookmarks


October 4, 2011

Nostalgia Menonton Bioskop

Sekitar 25 tahun silam, di kota Malang, Setiap kali menerima uang saku, saya senantiasa menyisihkan uang yang tak seberapa besar jumlahnya itu untuk “memanjakan diri” menonton film di Bioskop-Bioskop pinggiran yang ketika itu ramai bertebaran di kota Malang. Belum ada VCD /DVD Player yang begitu marak saat ini, justru Laser Disc Player dengan keping cakram besar atau video player VHS/Betamax yang menjadi sarana hiburan visual non bioskop dan hanya dimiliki oleh segelintir orang karena harganya masih cukup mahal. JAYA, Mulia, Garuda, KABALON, dan TENUN adalah nama gedung bioskop di sekeliling kampungku - sebuah pemukiman kaum urban di tengah kota Malang.



Menonton di bioskop kelas menengah-bawah selalu menjadi prioritas saya. Paling tidak, meski suaranya tidak menggelegar dan AC-nya tidak terlalu dingin, saya masih bisa menikmati sajian filmnya. Yang penting pas di kantong, nyaman dimata dan tentu hati jadi ikut terhibur, jadi tak masalah!. yang penting MERIAH. Perasaan bersama untuk menikmati tayangan bioskop di dalam satu ruangan adalah rasa nyaman tersendiri ketika menonton bioskop. Rasa inilah yang kini mulai terasa hilang ketika menonton sebuah film.

Semakin meluasnya bioskop-bioskop berteknologi tinggi yang mampu memberikan kenyamanan mewah dan eksklusif pada penontonnya, merebaknya peredaran VCD dan DVD Bajakan serta semakin berkembangnya teknologi 3D untuk piranti visual di rumah membuat bioskop-bioskop pinggiran kian tergerus dan akhirnya mati. Kendati demikian, kenangan dan nostalgia yang pernah saya alami menjadi memori indah yang senantiasa saya simpan dengan baik dalam hati.

Berdasarkan kegemaran tersebut, sempat terbersit untuk mengulang masa-masa itu, ketika kami sesama warga kampung janjian untuk menonton film baru yang diputar di gedung bioskop terdekat. Bersorak ramai ketika sang jagoan datang, atau bertepuk tangan ketika sang jagoan berhasil melumpuhkan musuh,... sungguh, sebuah kenangan yang manis untuk tetap bertahan di kepalaku ini.

Gayungpun bersambut, ketika seorang teman menawarkan sebuah proyektor. Segera saya kumpulkan teman-teman pemuda di kampung ini. Saya mengutarakan maksud dan ide untuk membuat layar tancap di kampung ini untuk mengenang masa-masa manis menonton bioskop.

Rupanya kawan-kawan setuju. Mereka langsung bersemangat dan segera membagi tugas. Saya kebagian menyiapkan materi tayangan, komputer, dan proyektor. Adnan mendapat tugas sebagai marketing merangkap annauncer, Fandi kebagian tugas menyiapkan layar dan soundsystem. Tak lupa, Amin si penjual Bakso kami kontak untuk mensponsori (atau lebih tepatnya menjamin konsumsi bagi panitia). Cak Rohman yang anggota Polri sebagai kepala keamanan kampung, kami kabari untuk mengawal kegiatan kami. Pak RW dan seluruh ketua RT juga kami beri tahu tentang kegiatan ini. Hasilnya, semua mendukung.... Hebohlah kampung kami.

Woro-woro yang dikumandangkan si Adnan langsung mendapat respon positif. Berkali-kali SMS masuk ke HP kami untuk sekedar menanyakan film apa yang akan diputar pada malam minggu mendatang. Kami tetap tutup mulut. Biarlah film yang akan diputar tetap menjadi rahasia panitia.

Hari Sabtu, 01 Oktober 211 tepat jam 19.30, layar sudah terkembang tepat di perempatan gang. Layar inipun seadanya, sebuah banner ukuran 6m x 4m bekas acara peringatan keagamaan beberapa waktu lalu. Musik dangdut kegemaran Fandi menjadi magnet tersendiri untuk menarik warga. Jam 20.00 proyektor, laptop, dan materi film sudah siap. Agar lebih memikat, Trailer Film Utama menjadi urutan pertama film yang akan diputar.

Dan BENAR.... warga kampung bersorak ramai.. ketika mengetahui film yang akan ditontonnya... KHUDA GAWAH.........! Sebuah film Box Office Bollywood tahun 1991 yang dibintangi Amitabh Bachan dan Sri Devi. Setelah Trailer, kami menayangkan kilas balik perjalanan dan kegiatan Jamaah Sholawat di kampung ini hingga prestasi-prestasi yang dihasilkan. Para penonton berteriak seru bahkan ada yang terpingkal-pingkal ketika mereka melihat wajah mereka sendiri dalam tayangan "Bioskop" ini.

Dan akhirnya, tepat jam 21.00 Film Khuda Gawah diputar. Kami bersorak ramai ketika sang jagoan datang, atau bertepuk tangan ketika sang jagoan berhasil melumpuhkan musuh,... dan ikut menangis ketika filmnya menyuguhkan adegan sedih. sungguh, sebuah kenangan yang terlalu manis untuk dilupakan... Sebuah kebahagiaan tersendiri ketika melihat mereka bahagia...!





Bagikan/Simpan/Bookmarks


July 31, 2011

Jam'iyah Hadrah Ar-Rohman

Sore itu jam 16.00 tepat di depan Stasiun Kotabaru Malang. Sebuah panggung besar ukuran 10 x 6 meter dengan background yang bertuliskan “Gebyar Seni Hadrah Al-Banjari se-Jatim”. Arus lalu lintas terpaksa dialihkan dari jalur yang tertutup panggung. Acara ini digelar dalam rangka peringatan hari jadi Koran lokal di kota Malang.

Lima peserta lomba sudah tampil. Sebentar lagi nomor urut 06 harus tampil setelah jeda istirahat. Kelompok kami, Jam’iyah Ar-Rohman nomor urut 10 masih belum tampak hadir di lokasi lomba. Aku yang bertugas di lapangan untuk memantau situasi dan kondisi jalannya gelaran ini mulai gelisah. Kucoba menelpon official tim yang lain, untuk mengingatkan bahwa dalam 1 jam ke depan, tim ini harus tampil.




Jam’iyah Ar-Rohman mungkin satu-satunya peserta dalam acara ini yang sedikit berbeda. Sebagai kumpulan /jamaah sholawat, Ar-Rohman terbentuk bukan dari golongan orang-orang agamis, mantan santri, atau aktivis keagamaan. Anggota Ar-Rohman adalah kumpulan orang-orang pinggiran, masyarakat urban kaum miskin kota. Profesi mereka sehari-hari adalah tukang parker, kuli, pedagang asongan, dan juga pengangguran. Rata-rata mereka memiliki masa lalu kelam sebagai masyarakat urban.

Sebelum terbentuknya kelompok ini, hamper semua Jemaah adalah mantan pemabok, penjudi, dan preman. Itu dulu… 10 tahun yang lalu. Secara perlahan, kehidupan mereka berubah. Mabuk dan judi sudah lama ditinggalkan.

Kini kegiatan senggang mereka adalah berkumpul, diskusi, dan latihan menabuh hadrah/rebana untuk melestarikan budaya sholawat dan kesenian. Setiap seminggu sekali, secara bergiliran di rumah-rumah anggota yang hanya 35 orang ini berkumpul untuk membaca sholawat. Sesekali diselingi music hadrah untuk memeriahkan acara sekaligus unjuk kebolehan bagi masyarakat sekitar. Tak jarang juga kelompok ini di undang untuk memeriahkan acara pernikahan atau khitanan warga. Kelompok ini adalah contoh konkrit sebuah perubahan, sebuah hijrah dari masa-masa suram dalam kehidupan anggota-anggotanya.

Kembali ke acara “Gebyar Seni Hadrah Al-Banjari se-Jatim”, tepat jam 16.50 semua anggota kelompok telah hadir dan siap tampil untuk menghibur sekaligus berkompetisi dengan peserta lainnya. Dan inilah penampilan mereka….



dan inilah penampilan lainnya.. :D


Bagikan/Simpan/Bookmarks


July 31, 2010

Rubik Cube

Bermula dari ketangkasan seorang teman yang begitu cepat menyelesaikan kubus rubik untuk Ryan dan Arum... aku jadi ikutan tertarik. Setelah beberapa hari berkutat dengan Rubik yang bagi sebagian besar orang sangat memusingkan... akhirnya aku bisa juga membuat sisinya sama. (Ssstt... langkahnya aku nyontek disini)

Nih,dia hasilnya..

Dengan langkah yang sama, akhirnya berhasil juga membuat motif yang lain. Jadinya kayak gini..



Kubus Rubik's adalah sebuah teka-teki mekanik yang ditemukan pada tahun 1974 oleh pemahat dan profesor arsitektur Hungaria, Ernő Rubik. Kubus ini terbuat dari plastik dan terdiri atas 26 kubus kecil yang berputar pada poros yang terlihat. Setiap sisi dari kubus ini memiliki sembilan permukaan yang terdiri dari enam warna yang berbeda. Ketika teka-teki ini terpecahkan, setiap sisi dari kubus ini memiliki satu warna dan warna yang berbeda dengan sisi lainnya.(Wiki)

Beberapa fakta kecepatan menyelesaikan kubus rubik adalah :

Rekor tercepat dalam menyelesaikan Kubus Rubik's (Rekor Indonesia) berhasil dicetak pada acara HUT MURI (Museum Rekor-Dunia Indonesia) pada tanggal 31 Januari 2007 di Hotel Grand Candi, Semarang. Catatan waktu yang dibukukan adalah 19,33 detik atas nama Abel Brata Susilo.

Rekor Dunia dalam menyelesaikan Kubus Rubik's dengan mata tertutup berhasil dicetak pada kompetisi Jakarta Open 2010 pada tanggal 31 Januari 2010 di FX Building, Jakarta. Rubik berukuran 3x3 dengan mata tertutup jumlah terbanyak yaitu 16 buah dalam waktu 57 menit diselesaikan atas nama Muhammad Iril dari Indonesia. Sebelumnya rekor dunia kategori ini dipegang Tong Jiang dari Cina dengan 15 kubus Rubik. Tidak hanya Muhammad Iril, Indonesia juga menempatkan putra bangsa di peringkat ketiga rekor dunia yaitu Wicaksono Adi dengan menyelesaikan 11 kubus Rubik tanpa melihat dalam waktu 55 menit 10 detik. Rekor Wicaksono dipecahkan saat Indonesia Open 2009. Semua rekor ini tercatat di Asosiasi Kubus Dunia (WCA).




Bagikan/Simpan/Bookmarks


January 1, 2010

Selamat Tahun Baru 2010



Waktu tetaplah waktu yang berjalan mengikuti takdirnya...
perlahan namun pasti,
waktu tetap setia menggerogoti setiap detik usia kita.

Lama dan baru hanyalah tanda yang dibuat manusia..
bahwa kita telah menjadi semakin tua..
Selamat Tahun Baru 2010










Dengan memasukkan email Anda, berarti setuju untuk selalu mengupdate artikel terbaru dari uziek. Masukkan Alamat Email Anda :


Dikirim oleh: Mbah Google



Bagikan/Simpan/Bookmarks




October 3, 2009

Membeli Nostalgia




Hari Raya Idul Fitri 1430 H telah usai. Aku ucapkan Selamat Idul Fitri 1430 H. Hiruk pikuk mudik telah berakhir, dan kembali pada aktivitas semula. Yang bekerja kembali kerja, yang kuliah juga kembali kuliah. Ada sedikit cerita saat pulang mudik kemarin.

Tahun ini, aku mudik ke kampung halaman istriku, Blitar. Tahukah kawan, apa yang terkenal dari kota Blitar selain Bung Karno? Ya, Pecel Blitar. Di Jawa Timur banyak banget versi Pecel. Ada Pecel Tumpang, Pecel Madiun, Pecel Nganjuk, dan banyak lagi yang lainnya sesuai nama kota.

Sehari setelah lebaran, pagi-pagi jam 06.00 aku diajak ke sebuah warung pecel. Nama warung ini adalah Warung Pecel Saminatun. Letaknya di Jalan Bali, Blitar. Warungnya kecil. Hanya berukuran 4x3 M saja. Dengan bangku seadanya, orang yang antri dan makan terpaksa berada di trotoar jalan. Tapi mereka semua tampak sangat menikmati masakan ibu Saminatun ini.

Ketika aku sampai di warung itu, antrian panjang telah berjajar hanya untuk merasakan pecel buatan putri Ibu Saminatun (penjualnya sekarang sudah generasi ke dua).Dari kendaraan yang di parkir di depan halaman itu, aku tahu para pembeli itu berasal dari luar kota Blitar. Dan benar saja dugaanku, saat ikut mengantri, aku dengar pembicaraan para pembeli pecel ini. Ada yang berasal dari Jakarta, Jambi, Balikpapan, Kupang, Padang, dan daerah lain di Indonesia. Bahkan ada yang berasal dari Hongkong, Malaysia, dan Singapura.

Tepat saat giliranku, nasi dan pecelnya hanya tersisa 3 bungkus. Padahal rencananya mau beli 10 bungkus. Istriku nampak kecewa…padahal, jujur saja, menurutku rasa pecel itu sama saja seperti rasa pecel lain di Blitar. Bahkan sama dengan buatan ibu mertuaku yang juga asli Blitar.

Aku jadi berpikir, apa sih menjadi daya tarik pecel Saminatun?

Seperti yang aku sebutkan di atas, warung pecel ini sudah 2 generasi berdiri. Penjual yang sekarang adalah anak ibu Saminatun yang telah jualan nasi pecel 20 tahun lebih. Padahal, ibu Saminatun sendiri sampai akhir hayatnya tetap setia jualan pecel. Jadi menurut perkiraanku, warung pecel ini telah berdiri 50 tahun lebih. Atau mungkin dulu bung Karno juga sering makan di warung ini.

Sejak awal berdirinya, menurut istriku, warung ini tidak banyak perubahan. Yang berubah hanya tembok bangunan. Dulu pakai dinding gedhek (anyaman bambu), sekarang sudah tembok. Lay out warung juga tidak banyak berubah.

Warung ini bukanya jam 05.00 WIB pagi. Jadi, ketika di rumah tidak sempat masak, maka orang tua biasanya menyiapkan sarapan buat buah hatinya dengan membeli pecel ibu Saminatun ini. Karena selain rasanya enak, harganya Super Murah. Sekarang aja harganya Cuma Rp. 2.000,- untuk satu porsi nasi pecel, tempe, dan rempeyek.

Nah, tradisi orang blitar yang suka sarapan nasi pecel, membelikan anak-anaknya sarapan nasi pecel di warung ibu Saminatun telah membekas di hati anak-anak mereka.

Dan seperti yang kawan ketahui, kebanyakan orang Blitar merantau. Tak hanya di dalam negeri, tapi juga ke luar negeri. Kenangan manis di saat antri membeli nasi pecel di warung ini, telah tertanam dalam benak mereka. Sehingga, ketika mereka pulang kampung, kenangan manis yang terus membekas inilah yang mereka cari di warung nasi pecel ibu Saminatun.

Ibu Saminatun telah berhasil menanamkan sebuah Brand Image atas nasi pecelnya, sehingga bisa menimbulkan auto sugesti pada para pelanggan setianya. Dan, pelanggan tidak hanya mendapatkan nasi pecel, juga kenangan manis masa kecil. Bagi pelanggan, membeli pecel di warung ibu Saminatun, sama dengan membeli Nostalgia.

Ingin mencicipi nasi pecel ibu Saminatun ? Datang aja ke Blitar, dan buktikan rasanya. Muanteb... Mak nyus..tenan!



Bagikan/Simpan/Bookmarks




February 17, 2009

SUKSES TANPA SEKOLAH

Ini adalah kisah seseorang yang sangat sukses dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Bukan karena dia bergelar sarjana atau professor. Dia bahkan SD saja tidak tamat. Inilah bukti yang tak terbantahkan bahwa sistem pendidikan kita hanya mengajarkan bagaimana cara mencari pekerjaan, bukan bagaimana cara menghadapi kehidupan.



Anak kecil itu berlari-lari pulang ke rumahnya. Tangannya yang mungil memegang sepucuk surat dari guru sekolahnya. Di ambang pintu rumah ia berteriak, "Mama, Mama, ada surat dari Pak Guru". Ibunya, Nancy Elliot, mantan guru, menyambut anak bungsu dari tujuh bersaudara itu dengan ciuman dan pelukan penuh kasih sayang.

"Coba Mama lihat," ujarnya seraya membuka amplop surat dengan hati-hati. Tangannya gemetar saat matanya menelusuri kata demi kata yang terpampang jelas di hadapannya: "Anak ini terlalu bodoh untuk dididik. Kami mengembalikannya pada Anda. Mulai besok, ia tak perlu datang ke sekolah lagi."

"Ma, mengapa Mama menangis?" tanya si anak, penuh keluguan. Dengan cucuran air mata sang ibu meraih tubuh kecil itu, memeluknya sambil berkata, "Thomas, I educate you my self."


Waktu itu, si anak berusia 7 tahun, dan baru tiga bulan mengecap pendidikan formal di sekolah. Dan ia memang tak pernah masuk sekolah lagi. Ketika usianya 12 tahun, anak yang dipanggil Thomas itu menjadi penjual kue, koran, kacang, dan permen di kereta api. la pernah ditampar kondektur, sehingga pendengarannya (telinga) rusak dan dilarang bekerja di kereta api.

Sungguh sulit dibayangkan bahwa anak yang "terlalu bodoh", drop-out Sekolah Dasar, dan sempat menjadi pedagang asongan itu, kemudian mencantumkan namanya dalam deretan ilmuwan paling terkemuka di muka bumi. Tidak kurang dari 3.000 penemuan dicatat atas namanya, atau atas nama orang-orang yang bekerja dengannya.

Dialah Thomas Alva Edison. Penemuan-penemuan seperti laboratorium riset untuk industri, stasiun tenaga listrik, sistem distribusi Listrik, fonograf (kemudian dikembangkan menjadi taperecorder), kinetograf (kamera film), kinetoskop (proyektor film), lokomotif listrik, mikrofon dan pengeras suara, adalah beberapa contoh yang selalu dikaitkan dengan nama Edison. Apakah Edison menjadi cerdas secara ajaib, sehingga ia menjadi tokoh yang berhasil? Ternyata tidak.

Meskipun ia sangat gemar membaca, dan memiliki kemampuan yang luar biasa dalam berkonsentrasi sedemikian rupa, sehingga melupakan semua hal di luar subyek yang sedang diselidikinya, Edison juga seorahg pelupa berat. Mungkin sulit dipercaya ketika suatu hari, saat masih asyik memusatkan pikirannya untuk memecahkan sebuah masalah ilmiah, Edison pergi ke kas negara untuk membayar pajak. la harus berdiri cukup lama, sebelum akhirnya mendapat giliran. Dan ketika gilirannya tiba, ia lupa narnanya sendiri. Salah seorang tetangga, setelah mengetahui betapa ia kebingungan, mengingatkan bahwa namanya adalah Thomas Alva Edison.

Masih ada cerita lain yang tak kalah menarik. Suatu pagi, setelah semalam suntuk bekerja di laboratorium, Edison menantikan sarapannya. Mungkin karena terlalu lelah, ia tertidur di meja makan. Salah seorang asistennya, yang baru saja selesai makan ham dan telur, ingin mempermainkan dirinya. Ia meletakkan piring-piring dan cangkir kosong di meja Edison. Beberapa menit kemudian, Edison bangun, mengusap matanya dan melihat piring dan cangkir kosong. Ia berpikir sebentar, lalu menyimpulkan bahwa tentunya ia sudah sarapan sebelum tertidur. la lalu menjauhkan diri dari meja makan dan mulai bekerja lagi. Thomas Edison tak akan pernah tahu duduk perkara yang sebenarnya, jika asistenasistennya tidak tertawa terbahak-bahak.

Jadi, Thomas Alva Edison bukanlah seorang jenius dalam arti yang dibayangkan banyak orang. Namun terbukti bahwa ia sukses luar biasa. Dalam usia belasan tahun, ia dapat membuat beberapa peralatan mesin cetak telegrafis yang dijualnya seharga US$40.000. Pada usia 25 tahun, ia mendirikan laboratorium riset untuk industri. Dalam waktu 13 bulan, ia mencatatkan 400 macam penemuan.

Saya kira Edison benar, ketika ia mengatakan bahwa orang bisa berhasil bila memiliki 1 % inspirasi (ide yang hebat) dan 99% perspirasi (keringat alias kerja keras). Sayang, saya tak pernah berhasil menemukan, berapa harga keringat seorang Edison, yang meninggal di West Orange, New York, 18 Oktober 1931, dalam usia 84 tahun. Anda tahu?


Dengan memasukkan email Anda, berarti setuju untuk selalu mengupdate artikel terbaru dari uziek. Masukkan Alamat Email Anda :

Dikirim oleh: Mbah Google



Profil Facebook Fauzi Ghazali

February 15, 2009

CONRAD NICHOLSON HILTON

Kiprah si Raja Hotel Dunia
Pasti Anda mengenal Paris Hilton, bukan? Yah, putri milyarder yang sering bikin ulah dengan ide-ide gilanya. Dia bisa melakukan apa saja karena dia punya uang... Mengutip pernyataan Robert T. Kiyosaki dalam buku-bukunya bahwa "Seandainya segala sesuatunya dalam dunia ini GRATIS, Orang tetap lebih memilih punya UANG". Nah, inilah kisah sukses Conrad Nicholson Hilton dalam usahanya membangun Kerajaan Bisnis Hotel, yang telah membuat keturunannya (Paris Hilton) bisa bertingkah semaunya..

D alam kata pembukaan biografi yang ditulis Whitney Bolton, salah seorang teman, Conrad Hilton menyatakan: Tidak mungkinlah seseorang memulai suatu usaha dalam hidup ini tanpa mengetahui arah mana yang akan ditujunya. Sejauh yang saya ingat…saya termasuk mempunyai sifat antusiasme. Dengan antusiasme yang terus mendorongku dan doa yang melindungiku, saya dapat mengatakan bahwa saya menyukai apa yang telah saya lakukan dalam hidup ini. Tak dapat tidak, dengan modal seperti itu, sulitlah orang tidak hidup dengan aktif, kaya, dan lebih-lebih lagi, bahagia.

Kalau seseorang mempunyai ambisi yang mendorong dia, kepercayaan yang menuntunnya, dan kesehatan untuk menerapkan segala kemampuannya, tidak mungkin tidak ia akan mencapai sukses, entah dengan cara apa. Kelihatannya sukses yang digambarkan oleh Hilton di atas ini mulai pada usia sangat muda. Ia mencapai ketenaran dan kekayaan bukan berkat bakat administrasi yang dibutuhkan untuk menjalankan suatu usaha hotel mewah, melainkan berkat ketajaman bisnisnya. Ia menguasai keahlian keuangan dan menjadi seorang yang pandai bernegosiasi, sangat cerdas dalam segala transaksi. Lebih dari itu, ia memiliki suatu indera keenam sangat peka yang memungkinkan dia memilih waktu dengan tepat, dan bermata jeli untuk melihat kesempatan dalam investasi yang menguntungkan. Di samping itu, Hilton sering menggunakan prinsip dasar sebagai berikut: Pilihlah orang-orang yang kompeten, tempatkan mereka pada posisi kunci dan secara implisit pada keputusan hati mereka.

Hilton dilahirkan pada 25 Desember 1887 di San Antonio, New Mexico. Ia anak kedua dari delapan bersaudara, dan anak lelaki pertama. Ayahnya, Augustus Hover Hilton, yang secara akrab dipanggil “Gus” dilahirkan di Oslo tahun 1854 dan telah berpindah ke Amerika Serikat pada tahun 1960-an.
Beberapa lama Gus Hilton tinggal di Fort Dodge, Iowa, tempat kelahiran istrinya, Mary Laufersweiler, seorang keturunan Jerman. Ia terpesona oleh banyaknya kesempatan di Barat, dan karenanya ia menetap di Sorocco, New Mexico, dan kemudian di San Antonio. Ia mengerti kebutuhan para penambang batu bara dan orang-orang yang bepergian pulang-balik melintasi perbatasan Mexico, dan hal ini mendorong dia untuk membangun suatu toko serba ada.

Hilton memimpin 185 hotel di Amerika Serikat dan 75 di seberang lautan ketika ia meninggal pada usia 91, bulan Januari 1979. Sebelum mengambil keputusan-keputusan yang penting. Hilton berhari-hari meneliti dan menimbang-nimbang segala implikasinya. Ia mempelajari segala sesuatu. Bila Hlton tidak dapat membeli sebuah hotel, ia menyewa. Bila ia tidak dapat menyewa, ia membangunnya. Lelaki jangkung mengesankan yang tampak segar bugar ini makan dan tidur di hotel; ia mimpi tentang hotel di malam hari.

Karier Hilton bermula ketika ia menjawab dengan tenang: Mengapa tidak menggunakan lima atau enam kamar di rumah kita dan mengubahnya menjadi ruang tidur, seperti hotel. Kota ini membutuhkan hotel. Mungking mula-mula kita tidak mempunyai pelanggan, tetapi ceritanya akan tersebar dan semua akan berjalan sendiri. Anak-anak perempuan dan Ibu dapat mengurusi dapur dan saya akan mengurusi bawaan para tamu.
Dengan mudah tiap kamar dapat menampung beberapa tamu. Dengan ongkos $2,50 sehari, saya pikir kita akan cukup beruntung. Sudah jelas, masalahnya adalah bagaimana menarik pelanggan.

Inilah awal sutu masa kerja keras bagi Hilton. Ibu dan saudara-saudara perempuannya mengurusi hotelnya sendiri sedangkan dia dan ayahnya tetap bekerja di toko. Tetapi begitu toko tutup pada pukul 6 sore, Hilton makan malam sedikit, dan langsung tidur. Pada tengah malam ia bangun untuk menjemput orang-orang yang turun dari kereta api pada jam 1 dini hari. Ia mengurusi barang-barang mereka, mendaftar mereka, mengecek apakah segala kebutuhan mereka telah tersedia, seperti selimut, sabun dan handuk, mencatat sarapan yang mereka inginkan di pagi hari dan jam berapa mereka minta dibangungkan. Ia mengirimkan catatan tersebut kepada ibu, lalu kembali ke station untuk menyambut kereta jam 3 pagi. Bila penumpang terakhir telah mendapat penginapan, Hilton dapat tidur lagi, sekurang-kurangnya sampai jam 7 pagi. Pada jam itu ia bangun, mengurusi para tamu, lalu membuka toko mereka jam 8 pagi.

Hanya dalam waktu enam minggu penginapan San Antonio sudah dikenal seluruh daerah itu, bahkan sampai sejauh di Chicago. “Kalau kamu harus singgah,” begitu kata orang, “pergilah ke San Antonio dan menginaplah di penginapan Hilton.” Suatu pelajaran penting telah didapatkan Conrad Hilton. Ia selalu bekerja keras dan lama untuk berhasil. Sampai kematiannya, ia berkata bahwa ia tidak mau dibayar sejuta dolar sebagai tukaran segala sesuatu yang telah dipelajarinya selama ini.

Keberhasilan “hotel” pertama Hilton memungkinkan dia menuntut pendidikan di New Mexico School of Mines pada tahun 1907. masa ini menandai suatu titik balik dalam hidupnya. Dalama waktu dua tahun, Gus sudah bangkit lagi. Ia mulai sibuk dalam usaha real estate di Hot Spring, New Mexico. Ia bermimpi tentang membuka sebuah bank, dan ia telah membeli tanah untuk membangun rumah. Tanah itu terletak di Sorocco, tempat berdirinya Chool of Mines. Hilton membenci kota itu. Ayahnya memberi dia pilihan untuk tetap di San Antonio dengan mengurusi toko, sementara seluruh keluarga berpindah ke Sorocco. Hilton tahu bahwa saudara-saudara perempuannya akan lebih mungkin berhasil di kota itu, maka ia setuju.

Inilah awal masa magangnya dalam dunia bisnis. Tunjukkan sikap hormat kepada siapa saja yang anda hadapi. Prinsip ini membantu dia dalam menghadapi pemerintah Puerto Rico, yang telah menghubungi tujuh hotel Amerika untuk meminta mereka membuka satu hotel mewah di San Juana. Tidak satu pun hotel itu yang tertarik, dan menjawab dengan surat bisnis yang pendek tanpa keramahan dalam bahasa Inggris, Hilton memberikan jawabannya dalam bahasa Spanyol yang sempurna. Tentu saja suasana jadi sangat berbeda. Maka lahirlah rangkaian hotel Caribe-Hilton. Dalam urusan bisnisnya di luar negeri pun, Hilton menerapkan tiga prinsip seperti di dalam negeri: Tanamkan modal sendiri, Perlakukan bankir-bankir sebagai teman, Berikan pada manajer saham dalam perusahaan. Formula ini mencapai hasil yang baik ke mana pun ia pergi, karena cara ini tidak mengundang rasa tidak senang orang yang dihadapi di luar negeri.

Hilton lebih suka menawarkan kemitraan kepada para investor luar dalam hotel-hotelnya. Mereka dibebani membeli tanahnya dan membiayai pembangunannya. Hilton memberikan bantuan teknis dan membantu pengoperasian hotel. Lalu kedua pihak
menandatangani kontrak sewa bersama atau kontrak manajemen bersama. Personil, yang disaring dan dipilih dengan teliti dari tenaga setempat, diundang untuk meningkatkan kemahiran mereka di hotel-hotel Hilton di Amerika Serikat.

Hotel-hotel muncul di mana-mana di luar negeri. Maka didirikanlah Hilton International Corporation pada tahun 1948. Badan ini berdiri sendiri, terpisah dari badan induknya, tetapi Hilton memegang pimpinan sebagai presiden dan ketua direksi. Operasi hotel Hilton di luar negeri memenuhi dua cita-cita Hilton: pertama membantu orang Amerika berhubungan dengan bagian dunia yang lain sehingga membuat mereka lebih bertoleransi, dan kedua, dan kedua, hotel-hotel ini memungkinkan dunia lain mengenal Amerika dan warganya. Tokoh-tokoh terkenal membantu penyediaan dana bagi Hotel Hilton yang terdapat di mana-mana di luar negeri. Shah Iran dengan Yayasan Pahlavinya memiliki sebuah Hotel Hilton. Howard Hughes juga mempunyai hubungan dengan hotel itu lewat Trans World Airlines. Pada bulan Mei 1967, Hilton International menjadi suatu cabang TWA. Pada waktu itu, Hilton telah mengundurkan diri dari bisnis yang telah dibangunnya dengan modal seadanya.

Hilton akhirnya mempunyai waktu untuk menikmati hidup dengan keluarga dan sahabat-sahabatnya di rumahnya di California. Walaupun ia tidak lagi menghendaki perjalanan keliling untuk melakukan pengawasan. Ia tidak pernah melewatkan perayaan inaugurasi. Di luar negeri, Hilton yang selalu menghormati tradisi setempat itu memberlakukan kebijaksanaan agar peristiwa-peristiwa gala ini mencakup adat naional dan cerita rakyat negara setempat. Walaupun dalam bisnis sangat sukses, dalam kehidupan pribadinya Hilton tidaklah begitu bahagia. Ia dan istri pertamanya, Mary Barron, mempunyai tiga anak laki-laki, Nick, Barron, dan Eric. Ketika anak terkecil lahir pada tahun 1933, Hilton sedang kehabisan tenaga akibat beban kerja keras. Perkawinannya berantakan. Selanjutnya ia kawin dengan Zsa-Zsa Gabar, tetapi perkawinan ini tak berumur panjang. Perkawinan ketiganya lebih tenang. Pada tahun 1976, pada usia 89 tahun, ia menikah dengan Mary France Kelly. Wanita itu
berumur 20 tahun di bawah dia dan merupakan sahabat sejak lama.

Pria yang mempunyai visi ini telah mengukir namanya dalam sejarah. Pada tahun 1965, usaha perhotelan Hilton memiliki 61 buah hotel di 19 negara; dengan kata lain, usaha itu mencapai 40.000 kamar dan tenaga karyawan mencapai 40.000 orang. Hilton sendiri menguasai 30 persen dari penerimaan besar yang diperkirakan mencapai $500.000 juta lebih. Inilah gambaran jelas tentang prinsip Hilton : Percayalah kepada cita-cita Anda, tujuan Anda dan kepada Tuhan. Formula di atas merupakan ringkasan dari karier hebat Conrad Hilton, salah seorang raja perhotelan paling besar dan paling kaya di dunia.

WALT DISNEY

Membangun Kerajaan Hiburan Keluarga

<
span style="font-style: italic; color: rgb(255, 102, 0);">Sukses adalah rangkaian kegagalan menuju sesuatu yang lebih baik. Bagaimana cara seseorang bangkit dari kegagalan, dan terus berjuang untuk mencapai kesuksesan dapat dipelajari dari kisah orang-orang yang telah sukses menghadapi setiap kegagalan. Kisah berikut adalah contoh seorang yang berani gagal dan akhirnya sukses mengukir sejarah dan turut mewarnai dunia... Inilah, Kisah Walt Disney..

T he Wonderful World of Disney dan merupakan gambaran seseorang yang telah berhasil mencapai segala sasaran cita-citanya. Kehidupan Walt Disney dapat diringkas dalam pedoman yang diikuti oleh semua orang kaya. Barang siapa ingin suskes, harus bekerja berat, pantang menyerah, dan lebih mengikuti kegandrungan. Walter Elias Disney dilahirkan di Chicago pada tanggal 5 Desember 1901. Ibunya, Flora Call, adalah wanita Jerman, sedangkan ayahnya, Elias Disney, seorang keturunan Irlandia Kanada

Namun ada satu gagasan yang selalu mengusik pikiran Walt Disney gagasan bekerja sendiri terutama karena ia telah mendengar bahwa sebagian karyawan akan tidak diperlukan bila musim sibuk berlalu. Ia gembira dengan prospek itu karena dua hal. Pertama, ia ingin berdiri sendiri, dan kedua, ia sangat ingin melakukan sesuatu yang baru dan orisinil, tidak hanya memenuhi keinginan bos dan para pelanggan. Disney, bersama dengan seorang teman, Ube Iwerks, mendirikan agen seni periklanannya yang pertama. Pelanggannya yang pertama adalah suatu rangkaian restoran.
Disney dan temannya berhasil membuat kesepakatan dengan restoran untuk membangun bengkel kerjanya di bangunan restoran baru itu tanpa membayar sedikit pun. Sebagai imbalan, mereka harus membuat poster-poster iklan untuk restoran itu.

Di samping bekerja untuk memenuhi kontrak ini, mereka bebas untuk mengerjakan proyek lain. Untuk menarik pelanggan, Walt merancang suatu rencana khusus. Ia akan pergi ke suatu toko atau perusahaan dan mencari tahu apakah mereka mempunyai suatu bagian seni. Orang yang memegang pimpinan mungkin menjawab bahwa bagian itu tidak diperlukan. Lalu Walt akan menawarkan jasanya atas dasar freelance, hubungan lepas. Kalau perusahaan itu tidak mempunyai pekerjaan yang harus dikerjakannya, tidak apa-apa. Tetapi kapan pun ada pekerjaan semacam itu yang harus dikerjakan, Walt dan temannya siap memberikan jasanya. Dalam waktu singkat, cara kerja semacam itu memungkinkan Walt dan temannya menabung cukup banyak uang yang tak mungkin dikumpulkannya andaikan mereka bekerja pada satu perusahaan saja.

Bisnis ini tampak memberikan harapan besar, tetapi pada suatu hari Walt menemukan suatu iklan dalam koran yangmenyatakan bahwa Kansas City Film Ad Company memerlukan seorang kartunis. Ia menghadapi dilema: Apakah ia akan mempertahankan bisnisnya dengan Ube atau akan mencoba memenuhi impian sejak masa kanak-kanaknya untuk membuat animasi kartun? Sekali ia telah menguasai kemahiran baru, tak ada yang akan menghalangi dia memulai usahanya sendiri kembali.
Pertimbangan ini mendorong dia memberatkan menerima pekerjaan itu. Pada tahun 1920, Disney akhirnya memasuki dunia animasi kartun. Ia akan segera menciptakan sebuah nama bagi dirinya di bidang itu, dan tokoh-tokoh perannya akan menjadi populer di seluruh dunia.

KC Film Ac Company memegang tanggung jawab atas segala aspek iklan film dan tak berapa lama menyadari kemampuan kartunis muda ini. Tak lama sesudah mulai, Walt diberi tugas membuat poster seorang pria yang mengenakan topi menurut mode mutakhir. Walt menggambar poster itu, tetapi hidung orang itu digantikan dengan gambar bohlam! Ketika poster itu ditampilkan di layar, bos berseru: “akhirnya muncul sesuatu yang baru di tempat ini: Saya sudah bosan dengan wajah-wajah cantik ini.”
Keorisinilan dan visi Walt tentang barang-barang di sekelilingnya membuat beberapa teman dan atasan kurang senang. Mereka sebenarnya iri dan menganggap dia pengacau. Oleh sebab itu, mereka tidak mau membiarkan dia mencoba suatu teknik baru untk menyempurnakan kartun-kartunnya. Ia mempunyai gagasan cemerlang membuat beberapa lukisan dan seluloid, lalu memotretnya dan menumpuknya dan akhirnya memfilmkannya. Pimpinan tidak mau mendengar hal semacam itu. Mereka merasa bahwa cara kerja mereka yang lama sudah cukup memberikan hasil sampai saat itu. Mereka tidak melihat alasan untuk mengubah teknik-teknik mereka, karena dengan cara itu pun para pelanggan sudah puas. Walt Disney tahu bahwa dia benar. Setelah berbulan-bulan membujuk bosnya, Walt akhirnya diperbolehkan membawa pulang salah satu kamera perusahaan untuk melakukan beberapa percobaan. Sejak saat itu, Walt Disney tidak pernah lagi berpaling ke belakang.

Di sebuah garasi kosong yang sudah dirombak jadi studio, ia mulai membuat film-film animasi pendek dengan menggunakan teknik hasil rekaannya. Ia kemudian memperlihatkan hasilnya kepada seorang pemimpin bisokop terkenal. Orang itu sangat terkesan. Sketsa-sketsa dan teknik film Walt sangat berbeda dengan yang sudah-sudah. Film kartunnya yang pertama segera diputar di bioskop-bioskop.

Pada mulanya kartun-kartun ini dimaksudkan untuk menggantikan iklan-iklan agar penonton terus menikmati apa yang muncul di layar selama selang waktu. Walt menyebut film-film itu “Laugh-O-Grams.” Film-film kartun Walt disenangi penonton dan sejak itu di Kansas City Walt Disney tidak lagi diejek sebagai si orang muda eksentrik” tetapi disegani. Gajinya naik. Dalam waktu singkat Disney menjadi orang terkenal di kota itu.

Ia mengembalikan kamera yang dipinjamnya dan membeli kamera sendiri dengan uang simpanannya. Film-film kartun menjadi semakin populer. Walt Disney menyewa ruang kantor yang lebih luas untuk usaha kecilnya, Laugh-O-Grams Corporation dengan modal awal sebesar $15.000. Ia mempekerjakan beberapa magang dan seorang salesman untuk mempromosikan Laugh-O-Grams di New York City. Impiannya untuk mandiri menjadi kenyataan pada waktu ia baru berumur 20 tahun.

Ia kemudian memutuskan untuk keluar dari KC Film untuk bekerja sendiri sepenuhnya. Tetapi sukses tidak terjadi dengan sendirinya. Biaya produksi tinggi dan sikap perfeksionis Walt Disney (yang membuat dia menanamkan kembali semua uang hasilnya untuk memperbaiki hasilnya), disamping pasaran yang sangat terbatas, segera mengakibatkan kebangkrutan.

Ini merupakan masa suram dalam hidupnya; ia telah beranggapan bahwa masa sulitnya akhirnya berlalu. Ia tidak beruang sedikitpun dan terpaksa tinggal di bengkel dengan makan dan tidur di sebuah bangku kecil, satu-satunya perabot yang dia miliki. Lebih jelek lagi, sekali seminggu ia harus pergi ke stasiun kereta api untuk mandi.
Akhirnya ia berhasil mendapatkan kontrak pembuatan kartun animasi untuk mendidik anak-anak pentingnya menyikat gigi. Pada suatu malam, dokter gigi yang memesan kartun ini datang menemuinya dan mengajak dia ke kantornya. “Tidak bisa,” jawab Disney. “Mengapa?” tanya dokter itu. “Karena saya tidak punya sepatu. Satu-satunya sepatuku ada di tempat tukang sepatu untuk direparasi, dan saya tidak punya uang untuk mengambilnya.”

Walaupun menghadapi keadaan yang serba menyusahkan. Walt Disney tidak putus asa. Ada sebuah gagasan di otaknya. Pada suatu malam bulan Juli 1923, dengan membawa semua uang di dalam saku baju setelan tuanya dari kain minyak berwarna abu-abu, pemuda kurus kering ini naik kereta api menuju Hollywood. Ia bertekad kuat untuk menjadi orang penting dalam dunia perfilman.

Ketika tiba di Hollywood, Walt Disney hanyalah satu di antara banyak orang yang mengharapkan mewujudkan cita-citanya. Kakaknya Ray telah tinggal di California beberapa waktu lamanya, dan ia dengan senang hati mengundang adiknya tinggal di rumahnya. Walt mulai mengunjungi studio-studio film satu per satu. Ia bersedia bekerja apa saja asal ada hubunganya dengan berfilman.

Untuk maju dalam suatu bidang keahlian khusus, orang harus masuk ke dalamnya apa pun pengorbanannya. Disney segera menyadari betapa sulitnya masuk ke studio-studio film Hollywood. Banyak orang lain sebelum dia telah melamar kerja, tetapi ditolak. Walt Disney tidak menjadi patah semangat karenanya. Kalau ada orang lain yang berhasil masuk, mengapa ia tidak? Di matanya, ada dua macam orang: Mereka yang merasa kalah dan terlantar bila mereka tak dapat menemukan pekerjaan dan mereka yang dapat mencari penghasilan dengan cara apa pun dalam masa sulit. Disney selalu berusaha keras agar termasuk dalam golongan kedua.

Pengalaman mengajar dia bahwa orang harus sepenuhnya mengandalkan diri sendiri. Ia kembali ke papan gambar dengan kemauan keras untuk mencari tempat bagi dirinya. Ia menggambar film-film komik dengan maksud dijual kepada pengusaha bioskop. Ia hanya menggunakan kembali pengalaman yang sudah diperolehnya di Kansas City dengan Laugh-O-Grams. Ada seorang pemilik gedung bioskop yang begitu tertarik sehingga ia membeli berseri-seri film komik. Ia bahkan memesan rangkaian cerita Alice in Wonderland yang telah mulai dibuat oleh Walt Disney di Kansas. Kepada Disney ditawarkan uang $1.500. Jumlah sebesar itu jauh lebih besar daripada yang diharapkan. Rangkaian seri Alice in Wonderland ini diputar berurutan sampai tiga tahun. Dengan hasil penjualannya Walt Disney bisa membeli rumah dan bahkan membangun studio filmnya sendiri.

Sesudah film-film Alice in Wonderland, Walt ingin menciptakan sesuatu yang baru dan yang benar-benar orisinil. Maka lahirlah makhluk kecil cerdik yang disebutnya “Mickey Mouse”, nama yang diberikan oleh istri Disney, Lillian Bounds. Mickey Mouse dengan cepat menjadi bintang tenar di seluruh dunia, dan bahkan lebih terkenal daripada banyak bintang Hollywood. Walaupun demikian, pada mulanya para produser menyambut kedatangan Mickey dengan kurang bersemangat.

Kira-kira pada waktu itu, film berbicara mulai muncul dan orang mulai memboikot film bisu. Disney pun bereaksi. Dengan kelompok pembantunya, ia memperkenalkan suatu metode baru untuk mensikronkan suara dan animasi. Walt terus mencari teknik-teknik baru untuk memperbaiki kemahirannya. Ia menerapkan pula proses: “teknikolor” yang baru. Dengan teknik baru ini ia tidak perlu lagi menggunakan kombinasi dua warna. Dalam film Bambi, ia menggunakan 46 rona warna hijau untuk hutannya. Kartun berwarnanya yang pertama, Silly Symphony, membuat para penggemar film kegirangan.
Disney makin menyadari bahwa kalau ia mau terus berkarya dengan skala yang lebih besar, ia harus membangun suatu kelompok berotak cerdar, artinya ia harus mengelilingi dirinya dengan asisten-asisten orang pintar yang mampu menawarkan produk bermutu. Untuk memantapkan diri, kami tahu bahwa kami harus melatih sendiri para asisten.

Disney merasa bahwa para kartunis yang bekerja padanya terlalu sering menggunakan cara-cara tipu daya kuno. Ia tahu bahwa satu-satunya cara mengubah keadaan ini adalah dengan mengadakan kursus-kursus latihan bagi mereka. Tujuannya sederhana: memperbaiki mutu lukisan dan teknik animasi. Ketika perusahaannya terus bertambah besar, ia memutuskan pada tahun 1930 untuk mendirikan sekolahnya sendiri, tempat ia akan mengajarkan segala teknik animasi kartun kepada calon-calon kartunis. Sekolah itu segera mulai tampak seperti kebun binatang. Soalnya, untuk membuat tokoh-tokoh kartunnya lebih realistic Disney telah mengubah ruang kelasnya menjadi laboratorium biologi kehidupan nyata dengan berbagai binatang yang diamati oleh para siswa dalam aneka perilaku dan sikapnya selagi tidur, jaga, makan, dan lain-lain. Pengamatan ini akan membantu dia pula untuk membuat film-film dokumenter tentang keajaiban alam pada waktu yang akan datang. Pada tahun 1938, Disney memperkenalkan film animasi panjang tajuk karangannya yang pertama, Snow white. Untuk membuat film ini ia membutuhkan waktu dua tahun penuh kerja keras. Film tersebut merupakan salah satu karya besarnya.

Tidak lama sesudah itu, ia membangun studio film modern di Burbank, California. Di tempat itu ia akan mempekerjakan sebanyak 1.500 orang. Sampai di situ ia tampaknya telah mencapai apa yang diimpikannya. Setahap demi tahap ia menjadi apa yang diinginkannya dahulu. Saya hanya bekerja dengan baik kalau ada hambatanm yang harus kuatasi. Saya khawatir bila segala sesuatu berjalan dengan terlalu lancar karena saya takut terjadinya perubahan mendadak dalam situasi ini.
Setelah Perang Duinia II, Ray dan Walt Disney menerima beberapa kontrak dari ketentaraan untuk membuat film dokumenter dan poster perang. Begitu perang selesai, bisnis makin sibuk bagi Disney Studios, dan Walt semakin mencurahkan perhatiannya pada keahlian seninya. Ia sering bekerja sampai larut malam. Konon, ia sering membongkar-bongkar keranjang sampah kertasnya untuk melihat isinya. Pada keesokan harinya ia akan menyuruh aistennya untuk meneliti apa yang ditemukannya; katanya, potongan-potongan kertas ini sering kali mengandung gagasan besar. Pada masa itulah Walt Disney menciptakan kebanyakan film besarnya, antara lain Cinderella, Peter Pan dan Bambi.

Pada tahun 1950-an, impian fantasmagorik Walt Disney-Disneyland mulai berkembang. Pada waktu itu, semua temannya, terutama bankir-bankirnya, menyatakan bahwa proyek ini gila-gilaan. Sekali lagi, Disney akan menunjukkan bahwa impian manusia dapat menjadi kenyataan.

Gagasan menciptakan Disneyland muncul, ketika ia berjalan-jalan di taman dengan kedua putrinya, Sharon dan Diana. Ia membayangkan sebuah taman wisata sangat luas tempat anak-anak dapat bertemu dengan tokoh kartun yang mereka sayangi. Ketika Walt Disney akhirnya memutuskan untuk proyek tersebut, tidak ada seorang pun atau apa pun dapat mengubah keputusannya.

Disneyland akhirnya terwujud di Anaheim, California, pada tahun 1955. Hari itu hari besar bagi Walt Disney. Ia berkata: Andaikata saya mendengarkan saya sendiri, tamanku ini tidak akan selesai. Inilah, akhirnya, sesuatu yang dapat saya sempurnakan terus-menerus. Pada tahun 1985, Disneyland menyambut pengunjungnya yang ke-250 juta.

Ketika Walt Disney meninggal pada tahun 1966, bioskop kehilangan salah seorang penciptanya yang paling besar. Dua prinsip penting telah memotivasi seluruh hidupnya: melakukan apa yang dia nikmati dan percaya akan gagasan-gagasannya. Tanpa prinsip-prinsip ini, ia tak akan pernah menjadi Walt Disney yang besar: penerima 900 tanda kehormatan, 32 Oscar, lima Emmy, dan lima doktor honoris causa, perintis sejarah animasi dan salah seorang manusia terkaya di dunia. Ia telah mewujudkan impian-impiannya jauh melebihi harapannya yang paling muluk.